Pasar 17 Agustus Bugih Jadi Sorotan LSM RIAR Jatim, Pedagang Sayur Dadakan Penuhi Trotoar Jalan.

admin
4 Min Read


PAMEKASAN,RiarNews.com – Aktivitas perdagangan di kawasan Pasar 17 Agustus Bugih kini menjadi perhatian serius dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) RIAR Jatim. Pihak LSM ini menyoroti kondisi lokasi yang semakin semrawut, di mana trotoar sebelah timur Pasar 17 Agustus jalan utama dipadati oleh pedagang sayur dadakan yang menggelar lapak dagangan secara tidak beraturan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, suasana di sekitar Pasar 17 Agustus Bugih terlihat sangat padat dan penuh sesak. Berjejer pedagang yang sebagian besar adalah warga sekitar yang baru saja membuka usaha musiman, menjajakan berbagai jenis sayuran segar. Mulai dari gubis, buncis, kentang, wortel, kol, serta rempah dan cabe ditata langsung di atas lantai trotoar.
Fasilitas umum yang seharusnya difungsikan khusus sebagai jalur pejalan kaki ini kini berubah total menjadi pusat penjualan sayur. Akibatnya, warga yang berjalan kaki terpaksa harus menempuh jalan di badan aspal yang sama dengan kendaraan bermotor. Hal ini tentu sangat berisiko menimbulkan kecelakaan lalu lintas maupun kemacetan panjang, terutama pada jam-jam sibuk.


Saat melakukan peninjauan, tim LSM RIAR Jatim sempat meminta keterangan kepada salah seorang pedagang yang sedang sibuk melayani pembeli. Pedagang tersebut bernama Bu Hasifah (56), warga asal Desa Konang, Kecamatan Galis Pamekasan.
Dengan nada pasrah, Bu Hasifah menceritakan bahwa dirinya memang sengaja membuka lapak di trotoar dari jam 5 pagi sampai jam 7 lebih, hal tersebut karena tidak mendapat tempat di dalam pasar. Ia juga mengaku bahwa setiap hari dirinya dikenakan pungutan retribusi sebesar Rp 5.000,- untuk satu kali masa dagang. Namun, ketika ditanya siapa pihak yang berwenang menarik karcis atau uang pungutan tersebut, ia enggan menyebutkan nama atau instansi tertentu, tapi saya tidak tahu siapa mereka dan dari mana asalnya, saya tidak berani sebutkan juga,” ungkap buk Ifah singkat.
Keterangan ini semakin memperkuat dugaan pihak LSM bahwa penumpukan pedagang di trotoar ini dibiarkan begitu saja, bahkan diduga ada pungutan yang terjadi di lokasi tanpa kejelasan pihak pengelolanya.
Ketua Umum DPP LSM RIAR Jatim menyampaikan bahwa pihaknya turun ke lokasi setelah menerima banyak keluhan dari masyarakat sekitar maupun pengguna jalan. Menurutnya, keberadaan pedagang sayur dadakan ini sudah melanggar aturan ketertiban umum dan merampas hak fasilitas publik. Ditambah lagi adanya pungutan yang tidak jelas ini, menjadi temuan baru yang perlu ditindaklanjuti.


“Kami sangat menyoroti kondisi di Pasar Bugih ini. Masalah utamanya jelas terlihat, trotoar yang haknya untuk pejalan kaki kini dikuasai sepenuhnya oleh pedagang sayur dadakan. Padahal ini bukan area yang diperuntukkan untuk berdagang. Belum lagi ada informasi bahwa mereka dipungut biaya, tapi tidak ada kejelasan siapa yang menarik. Pedagang boleh saja mencari nafkah dan membuka lapak, tapi harus di tempat yang semestinya, tidak boleh sembarangan menempati fasilitas umum apalagi jika ada pungutan yang tidak sah,” tegas perwakilan RIAR Jatim.
Selain mengganggu kelancaran lalu lintas dan keselamatan warga, keberadaan pedagang sayur dadakan ini juga dikhawatirkan menimbulkan masalah kebersihan lingkungan. Sisa-sisa daun sayuran yang layu, kulit bawang, akar tanaman, hingga sampah plastik pembungkus terlihat berserakan di sekitar lapak dagangan, meninggalkan kesan kotor dan tidak terawat di pinggir jalan.
Pihak LSM RIAR Jatim meminta kepada pemerintah daerah, khususnya dinas terkait dan satuan polisi pamong praja, untuk segera melakukan penertiban dan pengaturan ulang lokasi, sekaligus menelusuri kejelasan pungutan yang diterima para pedagang. Diharapkan nantinya ada penataan yang jelas agar pedagang sayur tetap bisa beraktivitas secara aman dan nyaman, namun tidak lagi mengganggu fungsi jalan dan trotoar.
Ditulis oleh: Tim Media LSM RIAR JATIM
Diterbitkan di: Riar News – Website resmi LSM RIAR JATIM
Senin, 1 Juni 2026

Share This Article
Tidak ada komentar