Pamekasan,RiarNews.com – Di halaman salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), pemandangan yang berulang terus terjadi kembali terlihat jelas. Deretan kendaraan mengantre panjang, namun yang paling menarik perhatian adalah barisan jerigen beraneka ukuran yang dibawanya. Mulai dari ukuran kecil hingga besar, jerigen-jerigen itu diletakkan berjejer rapi di pinggir pompa atau pelataran sekitar SPBU, menunggu giliran untuk diisi. Padahal larangan pengisian bahan bakar ke wadah selain tangki kendaraan itu sudah jelas.
Aturan dan imbauan itu sebenarnya sudah disosialisasikan berkali-kali. Tujuannya demi keselamatan bersama, mencegah penyalahgunaan, serta menjaga agar pasokan BBM tetap cukup dan merata bagi semua orang. Petugas di lapangan pun kerap mengingatkan agar aturan ini dipatuhi. Namun di kenyataannya, larangan itu seolah tidak mampu membendung kehadiran jerigen-jerigen tersebut. Warga tetap membawanya, tetap mengantre, dan berusaha mengisinya, bukan karena ingin melanggar peraturan, melainkan karena keadaan hidup yang memaksa mereka untuk melakukan hal itu.
Mereka yang mengantre dengan jerigen adalah wajah-wajah rakyat kecil: rakyat kecil yang penghasilannya sangat pas-pasan. Bagi mereka, BBM bukan sekadar bahan bakar biasa, melainkan sumber nafkah, memaksa mereka mengabaikan larangan itu. Bagi mereka, membawa jerigen adalah satu-satunya cara bertahan hidup agar bisa makan dan kebutuhan lain.
Melihat kontradiksi yang nyata ini—antara aturan yang melarang dan kenyataan hidup yang memaksa—muncul satu pertanyaan besar yang terus bergema dari hati setiap rakyat kecil: Kapan nasib kita akan berubah? Kapan rakyat ini benar-benar bisa hidup sejahtera dan makmur?
Negara ini diketahui memiliki kekayaan alam yang melimpah. Cadangan energi yang ada di bumi pertiwi seharusnya mampu menjamin kebutuhan seluruh anak bangsa tanpa harus ada yang berebut atau bersusah payah seperti ini. Namun, hingga detik ini, beban ekonomi masih terasa berat dipikul oleh masyarakat akar rumput. Harga kebutuhan pokok yang terus bergerak naik, pendapatan yang tak kunjung bertambah, serta ketidakpastian pasokan membuat mereka selalu waspada dan harus berjuang ekstra keras hanya untuk hal-hal dasar.
Larangan memang harus ada demi ketertiban, namun keberadaan jerigen-jerigen itu adalah cermin jujur dari kondisi ekonomi yang belum membaik. Selama rakyat masih merasa terdesak oleh kebutuhan, cemas akan ketersediaan, dan berat menanggung biaya hidup, selama itu pula aturan sulit ditegakkan sepenuhnya karena keadaan memaksa mereka memilih jalan bertahan hidup.
Di balik setiap tetes BBM yang masuk ke dalam jerigen itu, terselip harapan besar. Harapan agar suatu saat nanti, aturan tidak lagi berbenturan dengan kebutuhan hidup. Harapan agar kekayaan negeri ini dinikmati secara adil, sehingga rakyat kecil tak perlu lagi mengantre BBM di SPBU yang tak kenal panas dan hujan serta rela menunggu antrean panjang demi jrigen yang dibawa agar tidak kembali kosong. Harapan yang paling sederhana namun paling mendasar: mereka berharap agar anak- anak mereka kelak nasibnya berubah, hidup menjadi sejahtera, makmur, dan terjamin masa depannya tidak lagi mengantre BBM untuk kebutuhan hidup.
Diterbitkan di: Riar News – Website resmi LSM RIAR JATIM
